Jumat, 12 Desember 2014

Sepiring Spaghetti Sosis



Aku bukanlah orang yang suka masak ataupun pintar masak , tapi ada satu menu yang mamaku mempercayaiku untuk aku membuatnya, karena menu ini aku peroleh dari hasil perantauanku yang 10 bulan itu :). Yup menu itu adalah Spaghetti yang dulu biasanya aku hanya memakannya di resto atau cafe , tapi sekarang aku bisa membuatnya sendiri. Biasanya aku suka membuat spaghetti beef tapi kali ini mau mencoba versi yang berbeda. Kebetulan ide itu muncul ketika melihat postingan teman FB ku , yah...Spaghetti Sosis.

Setelah bahan-bahannya aku beli, sehabis shalat subuh aku membuat spaghetti, apalagi aku udah janji dengan temanku akan membuat sarapannya untuk nya ( so sweet ya :D ). Sebenarnya ini kali pertamanya aku membuat spaghetti untuk orang lain selain mamaku, karena takut dibilang gak enak masakanku.
Aku melihat jam dinding udah menunjukkan pukul 6.45 wib, yuhuiii finally spaghetti udah siap untuk di santap masih ada waktu untuk menaruh spaghetti di kotak makan warna pink , entah kenapa persiapanku kali ini memerlukan waktu seminggu mulai dari beli tempatnya sampe ide nya, aku benar-benar mau perfecto!!
Kalau di bilang lucu juga kan padahal hanya untuk teman belum lagi buat pacar atau suami, bisa-bisa sebulan persiapannya :)

Sesuai dengan waktu yang telah disepakati aku janjian ketemuan ama temanku di Jl. SM. Raja depan BNI, awalnya komunikasi kita masih nyambung via bbm tapi setelah yang ku tunggu gak kunjung datang aku menelepon temanku ternyata dia udah di daerah Marindal, disinilah acara kejar-kejaran itu dimulai. Dengan panik aku menyetop becak motor untuk bisa menyusul temanku itu, padahal aku gak bawa uang sepeser pun, hanya plastik berisi bekal makanan yang ku genggam, di tambah lagi gaya ku yang mengenakan daster pink + sendal jepit ( tepok jidat ). Tidak berapa lama temanku meneleponku menanyakan keberadaanku dimana, aku bilang tunggu udah mau nyampe kok. Akhirnya ketemu juga dengan temanku itu....huff lega rasanya...( kata temanku udah kayak drama korea aja kita ) Yah kejar-kejaran sambil bawa spaghetti untung gak sampe KualaNamo. Aku gak bisa bayangkan udah kayak mana bentuk spaghettinya hi....hi.....hi... Yang penting rasanya kan :)

Dedicated : Dorayaki alias Yeyen

Rabu, 13 Agustus 2014

Twin City



Aku penasaran dengan Kota Tua yang ada di Jakarta, apalagi setelah Jokowi menanda tangani perjanjian kerjasama dengan Pemerintah Malaka. Walaupun sering ke Jakarta tapi belum pernah berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, lebih sering dari Mall ke Mall, padahal untuk mengelilingi Mall yang ada di Jakarta tidak cukup dalam sehari,selain jarak yang jauh di tambah lagi kemacetan yang ada.

Akhirnya pergi juga ke Kota Tua,tapi sayang karena nyampe disana jam 11.00 wib jadi udah terasa panas,sehingga kita singgah ke CafĂ© Batavia yang ada di area tersebut. Ketika memasuki CafĂ© , terasa nuansa zaman Belandanya, dengan tiang-tiang yang tinggi, banyak juga pengunjung CafĂ© ini, termasuk turis dari luar negeri maupun lokal, ada yang hanya numpang berfoto saja. Tapi aku suka dengan desain interiornya, walo kuno tapi nilai artistiknya itu lo…


 



Menu makanan di café ini menyajikan ala Indonesia dan western dengan harga yang lumayan mahal sih, jadi kita membeli suasananya, itu menurut aku. Kalau kita menilai taste makanan yang ada lumayan enak jadi masih sesuai dengan harganya, oh ya yang aku suka di café ini taplak mejanya Indonesia banget, karena menggunakan motif batik, selain setiap tamu yang datang taplak meja di ganti baru ama waitresnya, hal ini yang menarik perhatiaanku. Nah kebetulan aku memilih di lantai 2 jadi view yang di dapat Mesium Fatahillah, banyak yang bisa diliat dari situ, ada beberapa orang yang naik sepeda ontel beserta dengan topinya, ada juga yang berfoto dengan orang yang jadi patung dengan pakaian yang unik, walo panas terik tapi ramai orang yang bersliweran disitu.
 
Makanan Ringan Yang Kupesan
Pengunjung Yang Datang Baik Lokal Maupun Turis                                                                                                                                  



Musium Fatahillah


Puas melihat dari atas, begitu sinar matahari mulai meredup barulah beranjak keluar cafĂ©. Kita melewati jalan setapak yang berada di samping mesium ramai pedagang kaki lima yang berjualan, mulai dari pernak pernik aksesoris sampe jajanan seperti mie ayam dll, ada yang menarik perhatianku yaitu penjual es lilin, es jadul aku bilang yang susah ditemui jaman sekarang ini, melihat es itu terkenang masa kecilku dulu yang suka beli es lilin berbatang-batang.  
Es Potong Rasa Coklat
Tidak banyak yang aku bisa lakukan di bawah panas terik ini, puas berkeliling menyempatkan diri berfoto dengan ondel-ondel, dan mencari tempat untuk bernarsis ria. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 wib panas matahari mulai memuncak sehingga harus segera menyelesaikan perjalanan ini. Oh ya jika Kota Tua ini di bandingkan dengan Red House yang di Melaka, kalo menurutku masih kalah. Mungkin penataannya lebih rapi yang di Melaka dan lebih asri karena banyak pohon yang rindang di bandingkan dengan yang disini. Indonesia tetap masih kalah dalam pengelolaan pariwisata di bandingkan di luar negeri. Paling tidak tulisan ini menjawab beberapa komentar teman-teman yang mengatakan aku kurang mau share cerita tentang Indonesia.



Berfoto Dengan Ondel-ondel

Penyewaan Sepeda Ontel