Dalam hidup ini kita
sering kali di hadapi berbagai masalah baik itu keluarga,kerja, maupun anak.
Terkadang kita sebagai manusia seringkali marah dengan keadaan , kenapa kita
harus mendapat masalah seperti itu. Apakah Tuhan marah atau benci pada kita ???
Atau juga Tuhan Gak Adil itulah kalimat yang ada di kepala kita ketika masalah
itu kita anggap berat.
Kita kadang lupa
bahwa Tuhan sangat sayang kepada kita, Tuhan mengajari kita tentang apa itu
namanya Pelajaran Kehidupan, yang tidak pernah kita dapat di pendidikan formal.
Tuhan ingin kita menjadi pribadi kuat, tegar dalam menghadapi berbagai masalah
dalam hidup. Ketika kita dihadapi masalah, kita lupa bahwa ada Tuhan. Kita
sibuk mencari apa penyebab masalah itu terjadi. Kita lupa bahwa Tuhan sengaja memberi
masalah itu kepada kita, untuk kita ambil pembelajaran dalam hidup, bahwa Aku
Bisa mengatasi dan melewatinya.
Ketika kita belajar
untuk pasrah, dan menyerahkan semua permasalahan itu dengan Tuhan akan jauh
lebih ringan. Itu pernah kualami ketika aku harus pindah ke Jakarta mengikuti
suami,disitulah aku mulai belajar tentang apa itu Hidup. Pertama kalinya
aku merantau jauh dari mama,dan tidak ada sanak saudara serta dan aku harus
tinggal dengan mertua. Awalnya aku anggap itu suatu beban yang cukup berat
untukku banyak tugas yang harus aku jalani dengan kehidupan baruku yakni harus
menyesuaikan diri dengan suami, mertua, sodara dari suami serta lingkungan
kerjaku. Aku harus bisa jaga sikap di hadapan mertuaku , itu yang selalu ku
camkan dikepalaku,sehingga tanpa kusadari aku kehilangan diriku. Ya aku jadi
pribadi yang lebih pendiam dan tertutup,dan berimbas juga ke lingkungan
kerjaku. Aku lebih gampang stress, dan aku tidak tau harus pada siapa aku
curhat,kondisi saat itu aku Sangggattttt Jauh dengan Tuhan, aku lupa Tuhan. Aku
asyik dengan masalah sehingga aku sering sakit, kalau tidak migren asmaku
kambuh, hampir tiap minggu aku minum obat. Apalagi hubungan dengan suami yang
sering bertengkar setiap minggu, belum lagi tekanan dari kantor, itu
benar-benar aku berada di puncak stress, sampai aku harus pulang ke Medan untuk
menetralkan keadaanku. Dan itu adalah obat yang mujarab menurutku saat itu. Karena
di Medan aku menemukan pribadiku kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar