Masih jelas dalam
ingatan kejadian-kejadian yang ku alami sewaktu masih di Jakarta,hampir 90%
yang menyakitkan. Mungkin terasa lebay tapi seperti itu yang kurasakan, setelah
aku di kondisi yang stress berat, aku mulai belajar untuk bisa berdamai dengan
keadaan yang ada. Semenjak aku ambil keputusan untuk berhenti kerja, aku
berusaha untuk menjadi istri yang baik, yang bisa melayani suami, dan mulai belajar
memasak. Padahal aku bukanlah orang yang suka memasak tapi karena peran sebagai
ibu rumah tangga, suka tidak suka harus aku lakukan, setelah ku coba, ternyata
aku bisa dan syukurnya rasanya masih bisa di makan.
Disitulah aku mulai
mendekatkan diri kepada Tuhan mulai menjalankan perintahNya, dan aku belajar
untuk pasrah, ya..pasrah semuanya aku kembalikan ke Tuhan , aku hanya meminta
agar di beri kekuatan untuk menjalani hidup berumah tangga. Aku hanya berpikir,
mungkin ini bisa memperbaiki rumah tanggaku. Yah..memang rumah tanggaku
bermasalah, seharusnya masih manis terasa berhubung belum ada setahun menikah
tapi kenyataannya , tidak. Yang kurasakan adalah kepahitan, aku merasa hidup di
bawah tekanan. Tidak boleh berargumen, tidak di beri kepercayaan oleh suami,
yang ada aku harus menuruti semua kemauan suami, ditambah lagi ibu mertua yang
selalu mencari kesalahanku. Sampai aku berpikir , apa ada yang salah dengan
pemikiranku ? Karena aku merasa disudutkan oleh ibu mertua dan kakak iparku.
Sepertinya aku itu manusia yang paling salah di dunia, sedangkan suamiku
sebaliknya. Aku semakin merasa sendirian, yah sendiri menjalani biduk rumah
tangga, hubungan dengan suami hanya sebatas menghindar dari pertengkaran. Aku
kehilangan diriku, ketakutan ku sering muncul, takut berbuat salah di hadapan
suami dan keluarganya. Itu pula yang membuat aku sering bolak-balik Jakarta
Medan, karena ketika di Medan aku menemukan diriku kembali.
Sampai pada akhirnya
suamiku mengambil suatu keputusan, ketika aku mendengarnya perasaanku campuk
aduk ada rasa sedih dan lega. Yah lega karena lepas dari tekanan yang ada,
sedih karena aku gagal. Tapi semua itu aku kembalikan ke Pencipta ku, Dia lah
yang mengatur semua ini. Takdir itu tidak bisa kita tolak walo semenitpun,
takdir itu hak veto Tuhan. Kita harus menjalaninya dengan tawakal dan ikhlas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar